9
Jumat, 21 Februari 2014
@18.43
Total Laba Perbankan BUMN 2013 Naik 19,44%
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat adanya pengingkatan laba bersih perbankan Pelat Merah pada akhir 2013. Total laba bank milik negara tersebut pada 2013 tercatat mencapai Rp48,762 triliun, naik Rp7,939 triliun atau 19,44 persen dari posisi 2012 sebesar Rp40,823 triliun.
Melansir keterangan yang diterbitkan BI, Kamis (20/2/2013), perbankan Indonesia mencatat laba tahun berjalan sebesar Rp61,645 triliun naik Rp9,976 triliun atau 19,30 persen dari sebelumnya Rp51,669 triliun.
Sementara, pendapatan bunga bersih tercatat naik Rp15,956 triliun atau 20,13 persen dari Rp79,244 triliun pada 2012, menjadi Rp95,200 triliun pada 2013. Sedangkan untuk pendapatan operasional naik Rp10,579 triliun atau 21,68 persen ke Rp59,468 triliun pada 2013 dari Rp48,871 triliun pada 2012.
Pendapatan tersebut, terdiri dari pendapatan bunga yang diterima dari simpanan di BI sebesar Rp1,933 triliun, penempatan dana di bank lain sebesar Rp1,557 triliun. Selain itu, terdapat dari penempatan dana di obligasi sebesar Rp1,557 triliun dan penyaluran kredit sebesar Rp121,345 triliun.
Di sisi lain, beban bunga turun bertambah seiring dengan peningkatan laba perbankan tersebut. Beban bunga pada 2013 tercatat sebesar Rp47,994 triliun pada 2014 dari sebelumnya Rp41,417 triliun pada 2013. (mrt)
Sumber: okezone.com
Label: Economy
8
@18.42
BNI Tambah Modal Bank Syariah Rp500 Miliar
JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Indonesia Tbk (BBNI) kembali menambah modal untuk BNI Syariah pada 2014. Tidak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai Rp500 miliar.
"Kita akan tambah modal Rp500 miliar lagi. Modal sekarang Rp1 Trilliun itu di 2010. Jadi kalau kita tambah Rp500 miliar sekarang sudah wajar,"ujar Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo, di Kantor Pusat BNI, Rabu (19/2/2014).
Gatot menambahkan, hal tersebut dilakukan agar BNI Syariah dapat tumbuh lebih pesat.
"Ini untuk pertumbuhan. Asetnya sudah Rp15 triliun. Untuk dapat tumbuh makanya kita akan tambah Rp500 miliar,"tambah dia.
Selain itu, hal ini dilakukan untuk memperbesar daya serap dana haji BNI Syariah.
"Selain itu untuk menyerap dana haji lebih tinggi. Sekarang, dana haji ini kita pindahkan dari BNI ke syariah. Dan tahun ini untuk dapat lebih banyak lagi kita tambahkan modalnya," pungkasnya. (rzk)
Sumber: okezone.com
Label: Economy
7
@18.41
Kredit CIMB Niaga Naik 8%
JAKARTA - PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat laba bersih konsolidasi (audited) yang berakhir 31 Desember 2013 sebesar Rp4,28 triliun. Perolehan tersebut naik 1 persen dibandingkan perolehan tahun sebelumnya sebesar Rp4,23 triliun.
Laba tersebut didukung oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar yang naik 4 persen yoy menjadi Rp10,12 triliun, dan pertumbuhan pendapatan non-bunga sebesar 8 persen yoy. Earning per share (EPS) meningkat menjadi Rp170,40, dibandingkan periode yang sama di 2012, sebesar Rp168,44.
Presiden Direktur CIMB Niaga Arwin Rasyid mengungkapkan, kinerja CIMB Niaga di 2013 cenderung datar, sebagai akibat tekanan net interest margin/NIM yang berkelanjutan, sejalan dengan penerapan strategi pertumbuhan kredit yang mengedepankan prinsip kehati-hatian sejak 2013.
"Dalam kondisi ini, kami akan meneruskan investasi dalam pengembangan infrastruktur dan meningkatkan sistem perbankan kami untuk mendukung tahap pertumbuhan kami selanjutnya,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (18/2/2014).
Dengan total aset mencapai Rp218,87 triliun per 31 Desember 2013 naik 11 persen. Hal ini seiring dengan meningkatnya jumlah kredit yang disalurkan sebesar 8 persen yoy menjadi Rp156,98 triliun di akhir tahun.
Dana pihak ketiga (DPK) per 31 Desember 2013 tercatat sebesar Rp163,74 triliun atau tumbuh 8 persen yoy. Current Account Savings Account meningkat 10 persen yoy menjadi Rp72,03 triliun, dengan Current Account (Giro) dan Savings Account (tabungan) masing-masing memberikan kontribusi sebesar Rp36,80 triliun atau tumbuh 13 persen yoy, dan Rp35,23 triliun atau tumbuh 7 persen yoy.
Hasil ini berdampak positif terhadap rasio CASA CIMB Niaga yang meningkat 52 basis poin menjadi 43,99 persen. (wdi)
Sumber: okezone.com
Label: Economy
6
@18.40
Kredit BNI Tumbuh 24,9%
JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan kredit sebesar 24,9 persen menjadi Rp250,64 triliun pada tahun 2013 dibandingkan periode tahun sebelumnya. Sebagian besar alokasi kredit tersebut ada di sektor kredit korporasi sebesar Rp112,23 triliun atau tumbuh 55,4 persen dibandingkan tahun 2012.
Kredit korporasi tersebut juga termasuk 116 debitur kredit medium BNI yang naik kelas ke kredit korporasi dengan nilai total mencapai Rp10,3 triliun akibat peningkatan usaha bisnisnya.
"Kredit BNI terus tumbuh pada dua bidang utama. Untuk sektor Business Banking, kredit tumbuh 26,5 persen, dan untuk sektor Consumer & Retail Banking yang tumbuh 15,5 persen," ungkap Direktur Utama BNI, Gatot M.Suwondo, di Kantor Pusat BNI, Jakarta, Rabu (19/2/2014).
Pertumbuhan kredit BNI tersebut, lanjut Gatot, membuat Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat dari 77,5 persen pada tahun 2012 menjadi 85,3 persen pada 2013. Peningkatan kredit ini menunjukkan fungsi BNI sebagai lembaga intermediary yang semakin baik.
Sementara itu, kualitas kredit terus membaik ditandai dengan menurunnyaNon Performing Loan (NPL). Net NPL BNI (yoy) 2,17 persen pada 2013. Sedangkan Gross NPL turun dari 2,8 persen tahun 2013.
Sesuai prinsip kehati-hatian, BNI juga meningkatkan rasio pencadangan (coverage ratio) dari 123 persen pada tahun 2012 menjadi 128,5 persen pada tahun 2013.
Pertumbuhan kredit BNI tetap didominasi oleh kredit dalam mata uang rupiah, yaitu sekitar 84 persen dari total portofolio kredit, karena BNI tetap ingin mendukung pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.
"Pertumbuhan pendapatan operasional merupakan hasil dari upaya BNI dalam meningkatkan ekspansi kredit dengan fokus pada 8 sektor unggulan yang saat ini mencakup lebih dari 66 persen dari total portofolioBusiness Banking BNI," pungkas Gatot. (rzk)
Sumber: okezone.com
Label: Economy
4
Senin, 03 Februari 2014
@20.26
Kenaikan Harga Elpiji Juga Picu Inflasi Januari
JAKARTA – Inflasi Januari 2014 mencapai 1,07 persen. Angka ini jauh dari perkiraan awal yang diprediksi hanya mendekati level 1 persen.
Besaran inflasi Januari dipicu beberapa jenis harga konsumen, terutama bahan pokok. Hal ini dikarenakan cuaca ekstrem yang berlangsung di beberapa wilayah di Indonesia.
"Kebanyakan pemicu inflasi datang dari bahan makanan karena kurangnya pasokan yang diakibatkan oleh terganggunya proses distribusi logistik akibat cuaca ekstrem dan bencana,” tutur Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (3/2/2014).
Suryamin mengungkapkan, selain karena cuaca ekstrem dan bencana lainnya, pemicu inflasi muncul juga akibat kenaikan harga elpiji nonsubsidi (12 kilogram). Andil terbesar inflasi Januari, jelasnya, justru terjadi akibat kenaikan harga elpiji nonsubsidi tersebut.
"Pemicu terbesar inflasi datang dari bahan bakar rumah tangga. Ini terjadi akibat kenaikan harga elpiji sesuai keputusan Pertamina," sebutnya.
Adapun faktor pemicu inflasi Januari 2014 adalah sebagai berikut:
1. Bahan bakar rumah tangga dengan besaran andil 0,17 persen;
2. Ikan segar dengan besaran andil 0,12 persen;
3. Cabai merah dengan besaran andil 0,08 persen;
4. Daging ayam beras dengan besaran andil 0,06 persen;
5. Telur ayam beras dengan besaran andil 0,06 persen;
6. Beras dengan besaran andil 0,05 persen;
7. Tomat sayur dengan besaran andil 0,03 persen;
8. Ikan yang diawetkan dengan besaran andil 0,02 persen;
9. Bayam, kangkung, cabai rawit, upah tukang bukan mandor, mobil, dan emas perhiasan dengan besaran andil 0,02 persen;
Sedangkan pemicu deflasi Januari 2014 antara lain:
1. Bawang merah dengan besaran andil 0,06 persen;
2. Tarif angkutan udara dengan besaran andil 0,03 persen. (rzy)
Sumber: economy.okezone.com
Wah, krisis ekonomi dan masalah ekonomi di mana-mana. Indonesia lagi pusing. Inflasi sekarang melunjak terus deh, deflasi juga sama aja. Kalau aja ekonomi kita maju dan stabil, pasti kita bakal damai, tenteram, dan aman deh. Setuju?
Label: Economy