JAKARTA – Inflasi Januari 2014 mencapai 1,07 persen. Angka ini jauh dari perkiraan awal yang diprediksi hanya mendekati level 1 persen.
Besaran inflasi Januari dipicu beberapa jenis harga konsumen, terutama bahan pokok. Hal ini dikarenakan cuaca ekstrem yang berlangsung di beberapa wilayah di Indonesia.
"Kebanyakan pemicu inflasi datang dari bahan makanan karena kurangnya pasokan yang diakibatkan oleh terganggunya proses distribusi logistik akibat cuaca ekstrem dan bencana,” tutur Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di kantornya, Jakarta, Senin (3/2/2014).
Suryamin mengungkapkan, selain karena cuaca ekstrem dan bencana lainnya, pemicu inflasi muncul juga akibat kenaikan harga elpiji nonsubsidi (12 kilogram). Andil terbesar inflasi Januari, jelasnya, justru terjadi akibat kenaikan harga elpiji nonsubsidi tersebut.
"Pemicu terbesar inflasi datang dari bahan bakar rumah tangga. Ini terjadi akibat kenaikan harga elpiji sesuai keputusan Pertamina," sebutnya.
Adapun faktor pemicu inflasi Januari 2014 adalah sebagai berikut:
1. Bahan bakar rumah tangga dengan besaran andil 0,17 persen;
2. Ikan segar dengan besaran andil 0,12 persen;
3. Cabai merah dengan besaran andil 0,08 persen;
4. Daging ayam beras dengan besaran andil 0,06 persen;
5. Telur ayam beras dengan besaran andil 0,06 persen;
6. Beras dengan besaran andil 0,05 persen;
7. Tomat sayur dengan besaran andil 0,03 persen;
8. Ikan yang diawetkan dengan besaran andil 0,02 persen;
9. Bayam, kangkung, cabai rawit, upah tukang bukan mandor, mobil, dan emas perhiasan dengan besaran andil 0,02 persen;
Sedangkan pemicu deflasi Januari 2014 antara lain:
1. Bawang merah dengan besaran andil 0,06 persen;
2. Tarif angkutan udara dengan besaran andil 0,03 persen. (rzy)
Wah, krisis ekonomi dan masalah ekonomi di mana-mana. Indonesia lagi pusing. Inflasi sekarang melunjak terus deh, deflasi juga sama aja. Kalau aja ekonomi kita maju dan stabil, pasti kita bakal damai, tenteram, dan aman deh. Setuju?